DAUD DIURAPI MENJADI RAJA

Samuel Anoints David I Samuel 16:13

Dalam kurun waktu yang relatif singkat, rakyat Indonesia akan merayakan Pesta Demokrasi, di bulan April memilih para wakil rakyat di bidang legislatif, dan beberapa bulan kemudian memilih seorang Presiden R.I. dari beberapa orang capres yang mencalonkan diri. Tokoh pemimpin macam apakah yang hendak kita pilih atau harus pilih? Untuk anggota legislatif tentunya kita sudah mempunyai seperangkat kondisi yang kita susun dari pengalaman pribadi kita masing-masing, a.l. misalnya bahwa sang caleg bukanlah seorang pribadi yang terindikasi dalam perkara korupsi, bukan seorang pribadi sering absen, bukan seorang pribadi yang suka tidur di tengah rapat paripurna sedang berlangsung dst. Mungkin kita juga mendambakan seorang presiden yang gagah, tampan dan santun, seorang presiden yang berani mengambil keputusan dan keputusannya itu efektif, memiliki integritas, mempunyai visi ke depan, memiliki belarasa terhadap rakyat kecil dlsb. 

Secara kebetulan pada hari ini kita dapat belajar dari suatu peristiwa yang terjadi ribuan tahun lalu, yaitu pengurapan Daud sebagai Raja Israel, menggantikan Saul. Jika Saul dinilai sebagai raja atau pemimpin bangsa yang gagal, maka nama Daud sangatlah harum sebagai seorang pemimpin negara. Manusia memang tidak ada yang sempurna, dan demikian jugalah halnya dengan Daud. Hari ini kita akan sedikit menyinggung pokok “penampilan pribadi ini”, justru karena pada umumnya dalam masyarakat kita upaya pencitraan seorang caleg (lihatlah berbagai baliho di jalan-jalan) atau capres sangatlah ditekankan. 

ALLAH MELIHAT HATI MANUSIA

Bacaan pertama Misa hari ini terdiri dari tiga belas ayat (1Sam 16:1-13). Jika direnungkan dengan serius, ketiga belas ayat itu akan sangat banyak membantu kita. Kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran nabi Samuel yang sudah lansia itu ketika seturut perintah Allah, dia mencari seorang “caja” (calon raja) di kota kecil berdebu yang bernama Betlehem itu. Hanya satu hal yang kita yakini, yaitu bahwa sang nabi tidak akan memilih seorang raja yang tidak ditentukan dan disetujui oleh oleh Allah sendiri.

Penampilan memang dapat menyesatkan. Appearance can be deceiving! Nabi Samuel pun hampir saja terkecoh dengan penampilan Eliab yang “wah, kerennya” (1Sam 16:6). Kemudian TUHAN bersabda kepada sang nabi, “Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi …… Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN  melihat hati” (1Sam 16:7).

Allah menjungkir-balikkan ide yang ada dalam benak nabi Samuel tentang kriteria kepemimpinan. Ia memilih putera bungsu Isai yang bernama Daud, yang bahkan oleh ayahnya (Isai) sendiri pun tidak diikutsertakan … dibiarkan tetap menggembalakan kawanan kambing dombanya. Daud dinilai tidak signifikan untuk ikut-serta dalam “kontes calon raja Israel” (pada zaman itu tentunya belum ada konvensi atau sejenisnya), namun justru dialah (Daud) yang dipilih menjadi raja Israel yang baru. Sejarah menunjukkan bahwa Daud adalah raja Israel yang terbesar, dan sang Mesias adalah keturunannya. Sedikit catatan penghiburan bagi kita semua: Samuel (seorang nabi) saja dapat terkecoh ketika melihat Eliab yang kelihatan gagah-perkasa, apalagi rakyat kebanyakan di sebuah republik ketika mereka memilih caleg dan/atau capres mereka.

PENAMPILAN DAPAT MENIPU

Memang, seperti yang kita pelajari dari kelas “management” atau mata-mata kuliah lainnya yang menyangkut perilaku manusia, dan juga dari pengalaman hidup kita sendiri, APPEARANCE CAN BE DECEIVING, … PENAMPILAN DAPAT MENIPU. Kelihatan sekilas seperti seekor beruang grizzly, ternyata hanyalah seekor beruang panda! Bukankah cukup sering kita membuat penilaian secepat kilat, kemudian menyadari bahwa kita telah membuat kesalahan besar? Bukankah tidak jarang kita membuat penilaian salah atas diri seseorang karena kita percaya pada pepatah Belanda yang mengatakan “Kleeren maken de man” (Pakaian yang dipakai seseorang membuat/menjadikan diri orang tersebut)? Pernahkah anda serta-merta mengatakan tentang keluarga tetangga yang baru, “Mereka bukanlah orang-orang yang pantas bagi kita … They are just not my kind of people”? Barangkali anda pun pernah gagal mengenali Roh Allah yang bekerja dalam diri seseorang, “Bagaimana Roh Kudus dapat menggunakan orang semacam itu, padahal ada banyak orang yang lebih baik?”

“Appearance can be deceiving” adalah suatu prinsip yang ditanamkan dalam hati setiap Citibanker, teristiwa ketika sudah direncanakan untuk duduk di bidang credit & marketing. Dengan berjalannya waktu saya pun semakin yakin akan kebenaran prinsip itu. Ada orang yang datang untuk sekadar chit-chat dengan para pejabat bank dan/atau mengajukan permohonam kredit sambil selalu membawa-bawa album fotonya bersama jenderal-jenderal, tetapi sebenarnya dia tidak ada apa-apanya, nggak “credit worthy”, istilah kerennya.

Pada waktu saya bekerja di sebuah bank swasta nasional sebagai General Manager yang menangani dan membawahi urusan cabang-cabang, saya mengalami suatu peristiwa yang berkaitan dengan urusan penampilan ini. Sekali terjadi di cabang Pekalongan ketika saya sedang berkunjung ke cabang di situ: Pada suatu pagi hampir saja kami kehilangan seorang nasabah deposan (sumber dana) yang potensial karena dia hampir saja “diusir” pergi oleh para “teller” (nama keren dari kasir) yang baru ditraining. Dia datang tidak bersepatu, cuma bersandal saya gaya Yohanes Pembaptis, dan mengenakan baju yang kumal, bukan safari yang “wah”, dia hanya membawa sebuah bungkusan koran yang entah apa isinya, tidak bawa tas dinas terbuat dari kulit asli. Ternyata orang “Cina” ini adalah seorang pemilik pabrik teh yang terletak di dekat kota Pekalongan. Yang dibungkus dalam kertas koran ternyata adalah uang tunai yang berjumlah puluhan juta rupiah yang pada waktu itu (1978) adalah uang yang relatif besar jumlahnya. Ya, memang “appearance can be deceiving”! Berapa banyak orang yang menyesal karena membuat pilihan salah karena terlalu terkesima pada penampilan pada dua pemilu (pilpres) yang lalu. Hidup ini adalah persepsi, sesuai dengan apa yang dilihat orang masing-masing, dan orang-orang itu berbeda satu sama lain, karena perbedaan latar belakang pendidikan, agama, budaya dlsb.) Jadi berhati-hatilah, “beauty is in the eyes of the beholder”!

SETURUT KEHENDAK ALLAH 

Dalam tulisan sebelum ini saya mengedepankan Saul – raja pertama Israel – sebagai seorang pemimpin yang gagal. Dalam catatan penutup tulisan itu saya menyinggung pentingnya kepemimpinan yang sesuai dengan kehendak Allah. Walaupun kepemimpinan seseorang itu efektif, namun apabila tidak dipraktekkan seturut kehendak Allah, katakanlah menyimpang dari kehendak Allah, maka janganlah diharapkan bahwa kepemimpinannya akan berlangsung lama.

Nah, Kitab Suci dipenuhi dengan pilihan-pilihan Allah yang sungguh tidak diharap-harapkan oleh “orang-orang normal” … unexpected choices! Ia memberi Rut – seorang Moab – sebuah tempat istimewa dalam daftar nenek moyang Yesus. Belum lagi nama-nama “buruk” lainnya! Allah memilih para nelayan tak berpendidikan menjadi para murid-Nya yang pertama. Ia juga memilih Saulus – seorang Farisi ekstrim yang mengejar para pengikut Kristus perdana – untuk menjadi seorang rasul agung: Paulus. “Janganlah menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yoh 7:24). Yesus juga pernah menegur orang-orang Farisi yang tidak mengenali siapa Dia sebenarnya: “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia” (Yoh 8:15). Jadi, Allah sungguh mempunyai cara-Nya sendiri untuk menjungkir-balikkan pandangan-pandangan dan asumsi-asumsi manusiawi kita.

Belajar memahami cara-cara atau jalan-jalan Allah – memandang dengan mata dan menilai dengan kriteria-Nya – adalah sebuah proses sepanjang hidup kita sebagai umat beriman. Walaupun demikian, Ia memberi banyak kesempatan kepada kita untuk mempraktekkannya. Lain kali, kalau anda tergoda untuk membuat penilaian secepat kilat, ingatlah sabda Allah: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, …… Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8-9).

CATATAN  PENUTUP

Dalam rangka mempersiapkan diri kita untuk aktif memilih calon-calon pemimpin dalam pemilu yang akan diselenggarakan tidak lama lagi ini, marilah kita memandang segala sesuatu di sekeliling kita melampaui penampilan yang kelihatan di permukaan sambil membuang segala prasangka serta praduga yang ada dalam diri kita. Lewat proses discernment (membeda-bedakan roh) yang benar untuk mengenal kehendak Allah, marilah kita menemukan rencana Allah!

Dengan segala kerendahan hati marilah kita memohon kepada Allah, sang Khalik langit dan bumi, untuk menerangi kegelapan hati kita, menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna. Juga agar Dia memberikan kepada kita perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, agar kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan kehendak-Nya (perintah-perintah-Nya) yang kudus dan tidak menyesatkan.

Jakarta, 21 Januari 2014

Drs. Tiardja Indrapradja

KOMPASIANA, 21 JANUARI 2014

Advertisements
This entry was posted in MEMILIH SEORANG PEMIMPIN and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s