POKOK-POKOK KEPEMIMPINAN

President Kennedy and Indonesia's President Sukarno riding in an open car past a row of soldiers.

Saya baru saja mempunyai kesempatan menulis lagi tentang kepemimpinan atau manajemen, setelah hampir dua bulan lamanya disibukkan dengan hal-hal lain. Beberapa pekan ini kepada kita disajikan kasus riil pemilihan calon pemimpin atau calon pasangan pemimpin yang akan memimpin negara tercinta Indonesia untuk lima tahun ke depan. Oleh karena itu ada baiknya jika saya membuat semacam ikhtisar tentang kepemimpinan, sedikitnya untuk menyegarkan kembali ingatan dan pemahaman anda sekalian tentang 15 tulisan saya sebelumnya. Siapa tahu juga pokok-pokok tersebut dapat membantu anda sekalian dalam membuat pilihan pada tanggal 9 Juli 2014.

Banyak pokok yang saya kemukakan dalam tulisan ini berasal dari bidang bisnis, namun apa yang dikemukakan sebagian besar berlaku juga dalam organisasi-organisasi di bidang pemerintahan, kepartaian dlsb.

Kepemimpinan merupakan kekuatan yang sangat penting di belakang organisasi-organisasi yang dikategorikan efektif/sukses. Untuk menciptakan organisasi-organisasi yang vital dan bergairah, maka kepemimpinan diperlukan untuk menolong organisasi-organisasi mengembangkan suatu visi yang baru terkait mau menjadi apa mereka nantinya, lalu memobilisasi organisasi-organisasi tersebut untuk berubah guna mewujudkan visi baru tersebut. Inilah yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan raksasa seperti Disney, Citicorp dll.

1.LEADERSHIP BUKAN MAIN-MAIN Kepemimpinan-lah yang membuat suatu perbedaan. Kepemimpinan efektif-lah yang membuat suatu perbedaan atas kinerja individu-individu, kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. Kepemimpinan yang efektif membawa dampak pada tingkat individual dengan menciptakan komitmen yang berbeda dengan ketaatan (compliance) yang diciptakan oleh praktek otoritas formal. Orang-orang yang berkomitmen itu penuh inspirasi, penuh entusiasme, penuh dedikasi, penuh energi dan penuh ketetapan hati. Dengan demikian orang-orang itu mampu untuk menghasilkan capaian-capaian yang lebih besar daripada mereka yang bekerja sekadar demi ketaatan terhadap segala peraturan yang berlaku, dan mereka biasanya memiliki sikap apatis. Kepemimpinan yang efektif juga memperbaiki kinerja kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi dengan team-building, melalui dampaknya terhadap kekompakan kelompok (group cohesion) dan dengan menghasilkan kebanggaan dalam capaian-capaian kolektif.

2. 05-martin-king-010909_14089_600x450Kepemimpinan adalah proses interaksi yang dinamis antara sang pemimpin, para  bawahannya (konstituen) dan situasi tertentu. Kepemimpinan memang dapat didefinisikan sebagai sebuah proses mempengaruhi yang membawa perubahan-perubahan dalam sikap dan/atau perilaku orang-orang sebagai suatu konsekuensi dari interaksi antara  para pemimpin dan pengikutnya dalam suatu konteks tertentu. Agar supaya pengaruh itu berhasil maka harus ada koneksi-koneksi antara kebutuhan-kebutuhan, ekspektasi-ekspektasi dan nilai-nilai dari mereka yang dipimpin, kata-kata dan tindakan-tindakan para pemimpin,  dan situasi-situasi khusus di mana kepemimpinan itu dipraktekkan. 

3. jack-welch-geKeefektifan dari kepemimpinan eksis pada dua tingkatan. Kepemimpinan yang efektif dapat didefinisikan pada dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah ketika kepemimpinan dipertimbangkan sebagai sudah efektif begitu sikap-sikap dan/atau perilaku orang-orang yang dipimpin telah dipengaruhi secara signifikan oleh sang pemimpin. Tingkatan kedua adalah ketika, sebagai suatu konsekuensi dari pengaruh tadi, kelompok dimampukan untuk mencapai tujuan-tujuannya, yang tidak akan dapat dicapainya tanpa pengaruh dari sang pemimpin tadi. Pada Perang Dunia II, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dinilai efektif sebagai seorang pemimpin pada tingkatan pertama, dalam arti bahwa dengan pidato-pidatonya dan teladan hidupnya sendiri dia berhasil mempengaruhi sikap-sikap orang-orang sehingga mereka mulai percaya pada kemungkinan akan tercapainya kemenangan akhir. Churchill juga efektif dalam tingkatan kedua yang lebih mendalam, dalam arti bahwa kepemimpinannya selama berlangsungnya perang dunia tersebut bersifat instrumental dalam menciptakan keuletan bangsa Inggris sehingga mampu bertahan di bawah serangan pemboman yang bertubi-tubi dari pesawat-pesawat Nazi Jerman atas diri penduduk sipil , dan juga moral tinggi angkatan bersenjatanya yang memampukan mereka untuk meninggalkan di belakang mereka segala kemunduran awal dan, merebut kembali inisiatif guna melawan musuh sampai tercapainya kemenangan akhir.

4.WALT AND ROY O. DISNEY Kepemimpinan dan manajemen harus dibedakan. Pada dasarnya manajemen didukung oleh otoritas dan kuasa seturut suatu posisi dalam sebuah hirarkhi formal. Para manajer berurusan dengan proses-proses yang formal dan logis seperti perencanaan dan pengendalian. Mereka harus mengalokasikan berbagai sumber daya keuangan dan materiil dan juga mengelola manusia yang ada. Para pemimpin dapat dikatakan secara eksklusif berurusan dengan orang-orang. Proses-proses mempengaruhi yang dipraktekkan oleh mereka seringkali tidak rasional dan bersifat intuitif. Tidak ada alasan mengapa pribadi yang sama tidak dapat efektif dalam dua peranan tersebut, walaupun biasanya ada “bias” juga. Pengembangan manajemen dan pengembangan kepemimpinan tidaklah sama dan pentinglah untuk memahami perbedaan yang ada. Bacalah tulisan saya yang berjudul “Kepemimpinan dan Manajemen” (Kompasiana tanggal 8 Januari 2014) dan “Kepemimpinan dan Manajemen dalam Praktek Bisnis di Disney” (Kompasiana tanggal 16 Februari 2014).

5. AM2-00025Kepemimpinan didistribusikan secara luas. Studi tentang kepemimpinan telah didistorsikan dengan konsentrasi-berlebihan atas pemimpin-pemimpin besar kelas dunia. Tokoh-tokoh dalam kasus-kasus ini tidak perlu menjadi yang paling baik untuk dipilih sebagai role models karena orang-orang dapat menjadi hampir putus asa untuk meniru atau meneladan mereka (Berapa orang di dunia yang mampu meneladan sehingga menjadi hampir serupa dengan Abraham Lincoln atau Nelson Mandela dalam sikap dan perilakunya sehari-hari?). Ribuan working leaders (pemimpin-pemimpin yang bekerja)  merupakan sebuah sumber yang lebih baik bagi mereka yang berkeinginan untuk menjadi lebih efektif sebagai pemimpin-pemimpin dalam situasi kerja mereka sehari-hari.

6.konosuke matsushita - 002 Kepemimpinan tidak sekadar mengenai perubahan. Karena heroic leaders yang paling dikenal dalam dalam dunia bisnis dan industri biasanya adalah mereka yang telah menunjukkan keberhasilan mewujudkan perubahan dalam organisasi, maka bertumbuhlah ide bahwa konsep-konsep kepemimpinan dan transformasi organisasi mau tidak mau terkait satu sama lain. Sebenarnya tidak demikian halnya. Kepemimpinan juga seringkali terlibat dalam upaya mempertahankan nilai-nilai tradisional guna melawan berbagai tantangan dari mereka yang berkeinginan untuk merusak dan/atau menghancurkan sistem nilai yang jelas baik untuk organisasi.

7. 57496517.ColinPowell_650Berbagai kualitas pribadi memang berarti dalam hal kepemimpinan. Praktek yang terus-menerus dalam bentuk penyuguhan daftar dari “kualitas-kualitas kepemimpinan” memang oke-oke saja, tetapi relatif tidak produktif. Biar bagaimana pun juga salahlah apabila kita mengabaikan bagian penting yang dimainkan oleh kualitas-kualitas pribadi yang dipersepsikan dimiliki seorang pemimpin dalam proses-proses interaktif di mana “pengaruh” dari sang pemimpin dipraktekkan. Pada waktu kita menentukan apakah menerima atau tidak menerima ide-ide atau tindakan yang diusulkan oleh orang-orang lain, tentu saja kita dipengaruhi oleh judgments yang kita buat sendiri tentang mereka. Apakah mereka jujur, dapat dipercaya, menyenangkan dalam berurusan, tegas, berani, pandai, kompeten atau bijaksana dlsb.? Kita dapat saja salah dalam judgments kita, namun hal tersebut tidak akan menghentikan kita dari tindakan seakan semua itu valid. Juga ada apa yang dinamakan kharisma, walaupun sulit untuk didefinisikan. Hal seperti itu memiliki kekuatan dan juga merupakan suatu kekecualian, dan kebanyakan pemimpin yang bekerja melakukan tugas manajemen mereka tanpa itu.

8. Jokowi-Visits-Bukit-Duri-Slum-Area-in-Jakarta-previewPerilaku lebih berarti dalam hal kepemimpinan. Kita belajar lebih banyak dari studi atas perilaku para pemimpin yang efektif daripada mencoba untuk membuat daftar (walaupun relatif panjang) yang memuat kualitas-kualitas pribadi. Dalam setiap kasus lebih mudahlah untuk memodifikasi perilaku seseorang daripada mengubah personalitas orang itu. Misalnya dimungkinkan sekali untuk mempelajari bagaimana seseorang dapat mendengarkan dengan aktif dan baik pesan-pesan yang disampaikan oleh teman bicaranya, atau bagaimana seseorang dapat berbicara di depan publik secara lebih baik.

Namun harus diperhatikan juga adanya bahaya untuk mencoba “memeras” pola-pola perilaku pemimpin ke dalam kategori “gaya-gaya” kepemimpinan. Ada bukti yang kuat untuk menyarankan bahwa adalah lebih penting untuk berperilaku secara konsisten dan dapat diprediksikan daripada mengambil gaya kepemimpinan khusus. Berbagai perilaku yang pada umumnya disebut sebagai penyumbang terhadap kepemimpinan yang efektif, a.l. adalah: (1) mengembangkan dan mengartikulasikan suatu visi; (2) mendengarkan; (3) memberdayakan; (4) menjadi role model atau leading by example; (5)  memecahkan persoalan (problem solving).

9. MOTHER TERESA HELPING SICK PEOPLESituasi yang dihadapi sangatlah penting dalam hal kepemimpinan. Keefektifan para pemimpin dan gaya-gaya atau pola-pola kepemimpinan tergantung pada situasi yang dihadapi, dan secara khusus pada hal-hal berikut ini:

  • budaya lokal dan nasional;
  • budaya perusahaan atau kelompok kerja; misalnya pola perilaku pemimpin yang efektif akan berbeda dalam sebuah perusahaan pengembang real estate, sebuah tim sepak bola dll.;
  • apakah itu kepemimpinan yang bersifat face-to-face seperti halnya dalam kelompok kerja yang relatif kecil atau “kepemimpinan institusional” dalam sebuah organisasi yang kompleks;
  • apakah terdapat krisis yang meluas pada waktu itu atau tidak;
  • sampai berapa luas dan mendalam pengalaman orang-orang yang dipimpin, dan apakah mereka sudah cukup terlatih dan kompeten?

10.MARGARET THATCHER - 01 Pemilihan para pemimpin untuk masa depan tidaklah mudah. Kesulitan-kesulitan berada di tiga tingkatan. Bagaimana membentuk suatu gambaran yang valid tentang masa depan lingkungan di dalam mana kepemimpinan itu akan dipraktekkan; bagaimana menentukan berbagai atribut dan perilaku pemimpin apa yang akan dikembangkan; bagaimana menentukan orang muda mana yang berpontensial paling besar untuk mengembangkan atribut-atribut ini? Sungguh tidak mudah, teristimewa disebabkan budaya yang berlaku di mana para elit dewasa ini lebih melihat positif orang-orang muda yang menyerupai diri mereka sendiri, dengan demikian mereka pun mendapat penugasan terbaik dan training yang terbaik pula. Memang tidak ada solusi yang sempurna, namun hasil-hasil terbaik kiranya dapat dicapai dengan menciptakan berbagai kesempatan seluas mungkin dan dengan menggunakan segala objektivitas yang dapat disediakan oleh pusat pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang sesempurna mungkin.

industry-11zk6qj11. Belajar memimpin mempersyaratkan tiga hal yang bersifat hakiki. Pertama, kesempatan-kesempatan untuk mempraktekkan kepemimpinan diberikan sejak awal pengalaman terkait tanggung-jawab dan tantangan secara riil, khususnya dalam situasi-situasi di mana harus mengandalkan berbagai sumber dayanya sendiri berupa stamina, keberanian, initiatif dan judgment.

Kedua, kesadaran diri dalam derajat tinggi yang dicapai melalui suatu kombinasi dari mentoring yang bermutu tinggi, umpan balik, khususnya dari rekan sejawat dan para bawahan dan instrumen-instrumen psikometrik yang telah diseleksi secara hati-hati. Ketiga, kesempatan-kesempatan – dibawah bimbingan – untuk melakukan refleksi atas nilai-nilai dan mengembangkan seperangkat nilai yang terintegrasi dengan baik untuk digunakan pada saat membuat berbagai keputusan atau pilihan yang sulit. Isu mengenai nilai-nilai ini seringkali diabaikan dalam program-program pengembangan kepemimpinan dalam dunia bisnis dan industri.

George-S-Patton-956x1201 (1)12. Pemimpin-pemimpin masa depan harus berbeda. Perubahan nilai-nilai sosial-budaya – mau tidak mau, cepat atau lambat – akan membuat pemimpin-pemimpin tradisional menjadi usang. Misalnya pemimpin-pemimpin masa depan akan terlebih-lebih berfungsi sebagai para pengurus (stewards) dari masa depan organisasi, menunjukkan keprihatinan mereka terhadap segenap pemangku kepentingan, dan memandang kepemimpinan sebagai pelayanan, bukan pengendalian dan pengawasan. Mereka akan menerima adanya kebutuhan untuk melanjutkan proses pembelajaran dan untuk mencapai personal mastery. Mereka akan menguasai seni mengajukan pertanyaan-pertanyaan relevan, bukannya mencoba menyediakan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.

Catatan Penutup 

Portrait_GandhiSeperti juga cinta, kepemimpinan terus saja menjadi sesuatu yang setiap orang mengetahui tentang keberadaannya, namun tidak akan mampu mendefinisikannya. Banyak pakar membangun teori-teori kepemimpinan, yang datang dan pergi. Ada banyak sekali teori yang memusatkan perhatian pada sang pemimpin, baik kualitas/karakteristik pribadi maupun perilaku pribadinya. Ada juga teori-teori yang memusatkan perhatian pada situasi, aspek kharisma yang dimiliki sang pemimpin dll., namun tidak ada satu pun teori kepemimpinan yang mampu bertahan terhadap perubahan yang terus berjalan dan mampu menjawab segala pertanyaan yang diajukan pada segala zaman.

Teori-teori kepemimpinan dapat saja jatuh-bangun, muncul dan hilang, namun dari masa ke masa kita diingatkan akan keberadaan pemimpin yang memang “pas” untuk zamannya, yang berjalan di depan barisan orang-orang yang dipimpinnya untuk menuju apa yang dicita-citakan bersama, sesuatu yang lebih baik tentunya. Dalam sejarah dunia, tercatat nama-nama seperti Mahatma Gandhi, Soekarno, Nelson Mandela, Martin Luther King Jr., John F. Kennedy, Abraham Lincoln dll. Semoga nama-nama para pemimpin sejati itu (bukan pemimpin abal-abal) memberi inspirasi kepada orang-orang muda kita, para puteri dan putera Indonesia yang akan menjadi para pemimpin bangsa dan negara kita di masa depan, baik di bidang bisnis maupun pemerintahan dll. Semoga mereka memimpin sebuah bangsa berjaya yang tidak akan begitu mudah dilecehkan dan dianggap enteng oleh negara-negara lain.

Jakarta, 24 Mei 2014 

Frans X. Indrapradja 

KOMPASIANA 24 MEI 2014

Advertisements
This entry was posted in KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s