THOMAS MORE: SEORANG PEMIMPIN DENGAN INTEGRITAS

Thomas more_famB_640x-g3Pada hari ini, tanggal 22 Juni, Gereja Katolik memperingati seorang kudus luar biasa, yaitu Santo Thomas More [1480-1535] bersama Uskup John Fisher, dua orang martir Gereja di negeri Inggris pada zaman pemerintahan raja Henry VIII. Kematian mereka hanya selang satu minggu saja. Thomas More adalah seorang awam seperti anda dan saya. Dia bukan seorang biarawan. Thomas More adalah seorang anggota tarekat Fransiskan yang khusus untuk umat awam  dan imam-imam praja, sekarang dikenal sebagai Ordo Fransiskan Sekular.

Nama Thomas More untuk pertama kali saya dengar pada waktu belajar ilmu ekonomi dari Pater Mr. Ingenhouz SJ (asal Breda, Belanda) di SMA Kanisius dahulu (1959-1962) ketika membahas buku karangan Thomas More yang terkenal, yaitu UTOPIA. Thomas More adalah lulusan Universitas Oxford, seorang ahli hukum (pengacara), seorang teolog (dalam artian tertentu), seorang filsuf dan seorang penulis. Ia pernah menjabat beberapa posisi penting dalam pemerintahan kerajaan pada masanya, misalnya sebagai anggota parlemen (House of Common), Sheriff of London,  anggota “King’s council”, dan yang tertinggi adalah sebagai “Lord Chancellor of England” di bawah raja Henry VIII. Harus diakui bahwa di Indonesia nama orang kudus ini memang kurang dikenal ketimbang nama-nama hebat seperti Fransiskus Xaverius, Ignatius dari Loyola dan Teresa dari Lisieux dll.

Thomas More adalah contoh ideal seorang saksi Kristus zaman modern.  Sebagai seorang anggota Tarekat S. Fransiskus awam, Thomas More bertekad untuk setiap harinya menepati Injil Yesus Kristus seturut jejak langkah Bapa Rohaninya, Santo Fransiskus dari Assisi. Orang kudus awam ini adalah tanda-lawan pada zamannya, kehidupan-saleh yang dijalaninya, kesetiaannya kepada Gereja  yang tak tergoyahkan; dan semuanya itu dibayar dengan darahnya sendiri. Thomas More adalah seorang martir dalam artian sebenarnya. Kehidupannya seharusnya menjadi teladan bagi para awam Katolik yang berkiprah di dunia sosial-politik.

Ia adalah putera dari seorang ksatria dan sejak kecil sudah hidup saleh, walaupun hidupnya itu penuh dengan humor-humor yang sehat. Setelah menjadi ahli hukum yang penuh kesibukan, Thomas More masih menyempatkan diri untuk mengikuti perayaan Misa harian di samping praktek-praktek keagamaan lainnya. Sebagai seorang bapak keluarga, Thomas More membimbing hidup rohani anak-anaknya agar senantiasa “takut akan Allah”.

SEORANG NEGARAWAN

ST. THOMAS MOREKarir Thomas More sebagai negarawan dimulai pada tahun 1510, karir ini terus menanjak dengan pesat sampai mencapai puncaknya pada tahun 1529 ketika dia diangkat menjadi Lord High Chancellor menggantikan Kardinal Wolsey. Thomas More banyak mengarang tulisan-tulisan bermutu. Sebuah buku karangannya berjudul UTOPIA, yang kemudian menjadi sangat terkenal.

Meskipun sudah menjadi pejabat negara puncak, dia masih menjalankan hidup rohaninya seperti sediakala. Setiap hari Jumat adalah hari baginya untuk melakukan introspeksi diri. Karya-karya karitatifnya pun luarbiasa. Thomas More sangat bersukacita manakala dia berkesempatan membantu imam dalam perayaan Misa Kudus, … sebagai pelayan Misa. Ada orang yang mengkritisi orang kudus ini, bahwa sebagai seorang awam tidak mungkinlah bagi dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas dunia yang sedemikian banyak dan kompleksnya, dan pada saat yang sama menekuni hidup rohani guna mencapai kesucian. Menanggapi kritik itu Thomas More mengatakan, bahwa Komuni Kudus-lah yang membuat dirinya tetap fokus dan untuk meringankan beban-beban pekerjaannya dia akan mendekat kepada Juru Selamat-Nya, minta nasehat dan terang (pencerahan) daripada-Nya. Yesus Kristus adalah tempat pelariannya. Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus seorang petugas istana mendekatinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadapnya dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Paduka Raja, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar daripadanya. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan langsung menghadap Sri Paduka Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir.

MENENTANG RAJA HENRY VIII

ST. THOMAS MORE DENGAN ANAKNYASementara itu raja Henry VIII sudah merasa bosan dengan permaisurinya yang sah (Katarina dari Aragon) dan dia berahi pada salah seorang dayang-dayang di istana (sudah menikah) yang bernama Anna Boleyn dan ingin menikahinya. Henry VIII sudah mencoba mendapatkan izin dari Sri Paus agar dia boleh menceraikan permaisurinya dan menikah dengan Anna Boleyn. Sri Paus tidak setuju. Takhta Suci dengan benar menghukum Henry VIII itu, namun sang raja malah memperburuk hubungannya dengan Takhta Suci dan mengangkat dirinya menjadi kepala Church of England (Gereja Inggris = Anglikan). Persetujuan atas undang-undang yang mengatur pengangkatan raja sebagai kepala Gereja Inggris dimungkinkan karena parlemen yang lemah. Para uskup dan imam harus mengangkat sumpah untuk mengakui sang raja sebagai atasan mereka. Siapa saja yang tidak setuju dengan keputusan raja ini akan dihukum mati. Orang pertama yang menentang raja adalah pejabat tinggi negara yang selama ini sangat setia kepada raja, Thomas More. Suara hatinya menang, dia memilih untuk setia kepada Yesus Kristus! Dia melepaskan jabatannya pada tanggal 16 Mei 1532, karena oposisinya terhadap perceraian raja sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dia menarik diri dari kehidupan politik, tetapi cukup menderita karena kehilangan penghasilannya yang utama.

Kemudian Thomas More dipanggil ke kantor pengadilan di Lambeth untuk mengangkat sumpah termaksud. Ia pergi menghadiri Misa Kudus, menerima komuni kudus, kemudian pergi ke Lambeth. Ketika sidang pengadilan melihat bahwa Thomas More tidak dapat dipaksa untuk mengangkat sumpah, dia pun dijebloskan ke dalam penjara. Dalam penjara dia menulis risalah yang berjudul “Kematian Demi Iman Tidak Perlu Ditakuti” dan sejumlah tulisan bermutu lainnya. Ketika isterinya membujuk Thomas More untuk menghentikan perlawanannya terhadap raja agar dapat memperpanjang hidupnya, maka dia bertanya kepada isterinya, berapa tahun lagi kiranya (menurut isterinya) dia masih dapat hidup? Isterinya menjawab: “Paling sedikit dua puluh tahun.” “Tentu!”, kata Thomas More. “Seandainya engkau mengatakan beberapa ribu tahun, mungkin hal itu membuat perbedaan. Namun, dia pun akan seperti seorang saudagar yang patut dikasihani karena mau mengambil risiko kehilangan hidup kekal demi memperoleh hidup sepanjang seribu tahun.”

DIPENJARA DAN DIJATUHI HUKUMAN PANCUNG

ST. THOMAS MORE-3Dari penjara Thomas More menulis sepucuk surat kepada Margaret, puterinya. Dia menulis: “Aku tahu ketidakpantasan hidupku di masa lampau, sehingga pantaslah Allah meninggalkanku. Namun aku hanya dapat menaruh kepercayaan dalam kebaikan-Nya yang penuh kerahiman, karena rahmat-Nyalah yang telah menguatkan aku sehingga dapat bertahan sampai hari ini. Rahmat-Nya telah menolong aku menyerahkan harta-bendaku, tanahku, bahkan kehidupanku, daripada aku mengangkat sumpah yang melawan hati nuraniku sendiri …” “Margaret, aku juga tahu sekali, bahwa kecuali untuk beberapa kesalahanku Allah tidak akan pernah meninggalkanku. Maka aku mempercayakan diriku sendiri sepenuhnya kepada-Nya dengan pengharapan yang  baik. Dan kalau pun Ia memperkenankan aku binasa karena kesalahanku, paling sedikit aku akan melayani-Nya dengan puji-pujian untuk keadilan-Nya. Akan tetapi aku percaya, bahwa rasa kasihan-Nya yang lemah lembut akan menjaga jiwaku yang malang ini agar selamat dan akan membuat aku melayani untuk menunjukkan kerahiman-Nya dan bukan keadilan-Nya. … Janganlah kuatir terhadap apa saja yang akan terjadi terhadap diriku dalam dunia ini. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kalau Allah tidak memperkenankannya. Dan segala hal yang diperkenankannya, betapa buruk sekali pun kelihatannya, sesungguhnya adalah yang terbaik bagi kita semua.”

Thomas More dijatuhi hukuman pancung pada tanggal 1 Juli 1535, banyak disebabkan oleh kesaksian palsu Richard Rich (yang kemudian menjadi Chancellor). Ketika dikeluarkan dari penjara untuk dibawa ke tempat pemancungan, kondisi kesehatan Thomas More sudah sangat lemah karena begitu lama dia berada dalam penjara. Thomas More berdoa sebentar, kemudian menutupi matanya dengan sepotong kain yang sudah tersedia sambil mengikatnya. Sesaat sebelum lehernya dipancung, dia masih sempat melontarkan sebuah humor: “Hati-hatilah, jangan sampai terpotong janggutku. Sebab, dia toh tidak bersalah melawan raja.”  Setelah mengucapkan kata-kata penuh humor itu, maka kepala dari seorang pribadi terbesar pada zaman itu terjatuh dan tubuhnya pun rebah terkulai. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 Juli 1535 di Tower Hill, London, Inggris.

SEORANG TANDA LAWAN SEJATI

St_Thomas_More_PrayingMantan pejabat tinggi kerajaan Inggris yang kudus ini yakin dan percaya, bahwa tidak seorang pun pemimpin negara yang dapat mempunyai yurisdiksi atas Gereja Kristus. Hal inilah yang menjadi “biaya kemuridan” bagi dirinya dalam mengikuti jejak sang Guru, Yesus Kristus. Meskipun berhadapan dengan raja sebagai penguasa tertinggi negeri Inggris yang juga menguasai parlemen yang lemah,  sebagai pejabat tinggi negara Thomas More dengan gigih menolak memberi persetujuannya atas perceraian raja Henry VIII. Ia juga tidak mau mengakui Henry VIII sebagai kepala Gereja Inggris yang memutuskan hubungan dengan Takhta Suci di Roma dan menolak Sri Paus sebagai pemimpin Gereja, padahal banyak sekali uskup dan imam memberi persetujuan mereka …… karena takut mati.

Kita lihat Thomas More tetap setia kepada Kristus dengan cara hidupnya, bukan sekedar lewat kata-katanya. Ia bertindak seperti apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (lihat Kis 1:1). Keseluruhan pribadinya, sikap dan perilakunya menunjukkan bahwa dia adalah milik Kristus. Dia sering mengatakan: “Ada banyak orang yang membeli neraka dengan upaya yang begitu banyak, padahal dengan upaya yang separuh banyaknya sudah cukup bagi mereka untuk memperoleh surga.” Thomas More juga mengasihi Kristus lewat devosinya kepada Sakramen Mahakudus, menghadiri Misa Kudus secara harian dan melayani imam dalam Perayaan Ekaristi, dan tentunya dengan menerima Komuni Kudus secara teratur. Dia setia kepada Kristus lewat kesetiaannya kepada Gereja (lihat Ef 5:25 dsj). Thomas More tidak mau mundur sedikit pun dalam kesetiaannya kepada Kristus, sikap dan perilaku ini membawanya ke dalam kegelapan ruang penjara dan akhirnya kematian.

DIKENANG UNTUK INTEGRITASNYA

THOMAS MORE ANGGOTA OFSSiapa pun dia ini, Thomas More dikenang – teristimewa di dunia barat – untuk integritasnya. Dalam buku karangan Lawrence G. Lovasik SVD, BEST-LOVED SAINTS dengan baik sekali diceritakan riwayat hidup 50 orang kudus yang paling dicintai dalam Gereja Katolik. Ada 11 (sebelas) nama anggota keluarga tarekat Fransiskan yang tercantum dalam daftar para kudus itu, 6 (enam) di antaranya adalah anggota ordo III sekular/awam, salah satunya adalah Santo Thomas More.

Kehidupan Thomas More dan teristimewa kematiannya adalah cerminan kehidupan dan kematian seorang negarawan sejati yang penuh integritas. Ia menolak menandatangani Act of Succession yang menyatakan bahwa anak-anak raja Henry VIII dari istri keduanya (Anna Boleyn) adalah pewaris-pewaris sah dari takhta kerajaan. Ia juga menolak bersumpah Oath of Supremacy (mengakui Raja sebagai kepala Gereja Inggris). Karena itulah raja Henry VIII menjebloskan sang Lord High Chancellor, mengadilinya dalam pengadilan dagelan dan akhirnya kepalanya pun dipenggal. St. Thomas More mengetahui bahwa apabila dia menolak mengucapkan sumpah itu, maka dia dapat kehilangan nyawa. Tetapi dia berkata: “Aku mati sebagai hamba raja yang baik, tetapi pertama-tama sebagai hamba Allah”. Karena Thomas More adalah seorang ahli hukum dan tokoh politik, tentunya dia mampu mencari lobang-lobang dalam hukum yang berlaku, namun ketidakmauannya untuk melawan suara hatinya merupakan contoh integritasnya yang luarbiasa sebagai seorang pribadi.

Berbicara dalam lingkup negara dan bangsa kita beberapa tahun terakhir ini, teristimewa di tingkat elit pemerintahan, jelas kelihatan dan sangat terasa bahwa nilai-nilai kejujuran dan integritas semakin menyusut dan bahkan dapat dikatakan sudah menghilang. Setiap hari yang kita lihat di TV dan surat kabar adalah skandal-skandal dan kebohongan-kebohongan berskala besar yang semakin marak, malah sudah berhasil menyusup ke dunia pendidikan paling bawah, yaitu di tingkat SD. Semua hal ini pun lalu diiringi dengan adegan-adegan kekerasan di mana-mana, dari lapangan-lapangan bola, desa-desa, arena pemilukada sampai di jalan-jalan penting di kota Metropolitan Jakarta. Rasa keadilan rakyat biasa seperti kita terasa seperti ditusuk-tusuk, apalagi apabila kita sedang berada dalam ketidakberdayaan. Tidak sedikit orang malah berpikir apa masih perlu bagi kita untuk bersikap dan berperilaku jujur. Lihatlah bagaimana para koruptor masih dapat menebar senyum ke segala arah tanpa rasa malu sedikit pun. Di sinilah Thomas More menjadi relevan sebagai “model” bagi para pemimpin negara dan bangsa kita, termasuk para pemimpin Gereja di segala tingkat.

Dalam kesempatan ini baiklah saya kutip sebagian tulisan P. Paulinus Yan Olla MSF dalam harian KOMPAS, yang berbunyi sebagai berikut: Teladan sikap etis sosial harus dimulai dari pemimpin bangsa. Saat dilanda krisis etis, sosial, keagamaan oleh sikap Raja Henry VIII yang menuntut ketaatan mutlak dari semua warga Inggris, melahirkan tokoh seperti Thomas More yang rela dihukum mati demi keyakinan etisnya. Pikirannya diarahkan untuk mewujudkan masyarakat adil, sejahtera (Utopia, 1516), dan tidak ingin menjual nuraninya demi menyenangkan atau membenarkan raja yang salah langkah. Kepada anak mantunya yang meminta bantuan, ia pernah menulis, “Jika aku harus mengadili sebuah perkara dan pihak pertama adalah ayahku, sedang pihak kedua adalah iblis, dan ternyata iblis berada pada pihak yang benar, maka keputusanku harus membenarkan iblis.” Di tengah situasi bangsa yang seakan terbelenggu oleh cinta diri narsistis dan penuh kekerasan politik sektarian, diperlukan para pemimpin yang berjuang demi rakyat dan masyarakat yang demokratis, berprinsip nilai-nilai etis seperti kebenaran, keadilan, dan kejujuran nurani. Kriteria etis sosial dan mendasar seperti itulah yang kini harus diiklankan untuk diketahui rakyat Indonesia (KOMPAS, Senin 23 Februari 2009).

CATATAN PENUTUP

St-Thomas-MoreKehidupan Thomas More menunjukkan kepada kita semua, bahwa integritas bukanlah sesuatu yang bersifat situasional, yang dapat dipakai dan dilepas “semau gue”. Integritas adalah suatu keutamaan (kebajikan) untuk segala musim…… Integrity  is a virtue for all seasons. Tidak salahlah ketika pada akhir abad lalu Robert Bolt memberi judul drama teaternya (kemudian dibuat film) yang sangat sukses itu, A MAN FOR ALL SEASONS. Saya pernah melihat film itu dan banyak belajar dari film itu.

Pada tahun 1888 Thomas More dibeatifikasikan oleh Paus Leo XIII [1878-1903] dan kemudian dikanonisasikan sebagai orang kudus pada tanggal 19 Mei 1935 oleh Paus Pius XI [1922-1939].

Sumber: (1) Woodeene Koenig-Bricker, 365 SAINTS – YOUR DAILY GUIDE TO THE WISDOM AND WONDER OF THEIR LIVES; (2) Matthew Bunson, OUR SUNDAY VISITOR’S ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY; (3) John J. Delaney (Editor), SAINTS FOR ALL SEASONS; (4) P. Marion A. Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS; (5) Rev. Lawrence G. Lovasik SVD, BEST-LOVED SAINTS – Inspiring Biographies of Popular Saints for Young Catholics and Adults; (6) P. Paulinus Yan Olla MSF, MENGGUGAT DEMOKRASI KITA (KOMPAS, Senin 23 Februari 2009).

Cilandak, 22 Juni 2014 

Frans Indrapradja

KOMPASIANA, 22 JUNI 2014

Advertisements
This entry was posted in GREAT SOCIAL & RELIGIOUS LEADERS - IN ENGLISH and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s